Minnie [Part 9]

minnie_poster

Minnie 

A Brother Complex Story

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Lee Taemin

Support Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kwon Yuri
  • Shim Aerin (OC)
  • Key
  • Onew

Genre: Alternate Universe, Bromance, Family, Friendship

Rating: PG-13

Poster belong to ART Factory

Read previous part on Minnie 8

~~~~~~~

Jonghyun sadar matahari telah terbit di luar sana. Secercah sinar telah membelai ujung jari kakinya.

Ia tahu, tapi enggan beranjak.

Alih-alih merasa sakit di sekujur raga, pikirannya-lah yang terasa berat. Terlalu banyak hal yang berseliweran dalam tempurung kepala, menusuk-nusuk tengkorak hingga ia menyangka otaknya dapat pecah sewaktu-waktu. Percakapan dengan Key tiga hari lalu tak henti-hentinya berputar. Seperti kaset rusak bertalu-talu dalam memorinya.

Jelas sekali saat itu Key menatapnya tenang. Pertanyaan yang ia lontarkan tidak mengubah ekspresi laki-laki itu.

“Apa hubungannya denganku?” Key menjejalkan tangan dalam saku celana jins dan menyeringai. “Simpel. Aku tidak mengenalnya.”

“Lantas, kenapa kau—”

“Stop, jangan curang. Sekarang giliranku bertanya.”

Jonghyun meneguk ludah. Namun, ia hanya mengangkat bahu tanda setuju.

“Kau punya kapasitas apa untuk bertanya demikian?”

Telak. Orang bernama Key ini pasti mengerti betul mengenai transaksi. Tidak boleh ada yang terlontar sia-sia, tidak ada yang terucap tanpa makna. Jonghyun menggigit bibir, menimang-nimang apakah hasil curi dengarnya selama ini harus dibeberkan atau tidak.

Entahlah, ia sendiri tidak tahu konsekuensi dari dua pilihan tersebut. Diputuskannya berkata, “Aku tinggal di sebelah apartemenmu.”

Saat itu, meski singkat, kelopak mata Key melebar terkejut. Kendati demikian, ia hanya menggumam, “Wow, kejutan.”

“Aku mendengar percakapan kalian. Kau dan temanmu.”

Key tidak merespon, karena itu Jonghyun melanjutkan, “Kau pasti tahu aku bisa melapor kapan saja soal… er, perampokan itu. Makanya, aku ingin tahu kenapa kau mengintai Choi Minho.”

Lawan bicaranya menyeringai kecil. Cerita aneh bak skenario film lantas meluncur dari bibirnya. Tanpa ampun dijejalkan ke dalam otak Jonghyun dan memaksanya untuk mengerti dalam selintas waktu saja.

Organisasi bawah tanah. Transaksi ilegal. Pengejaran.

Semua ini membuat kepala Jonghyun terasa amat berat. Ia memejamkan mata, namun harus segera membukanya lagi lantaran gedoran keras bernada mendesak hadir di pintu depan. Mengerang pelan, ia berguling turun dari tempat tidur dan terseok meninggalkan kamar.

Ribut sekali. wajarkah orang bertamu sepagi ini? Jonghyun menarik gerendel dan mengayun pintu ke luar. Kekesalannya sirna seketika bertemu pandang dengan sepasang mata milik wanita yang amat dikenalnya. Ibu Aerin.

Ajumma, ada apa?”

“Aerin ada di sini?” bisik wanita itu, letih naamun tegang. Nada bicaranya memancing kecurigaan Jonghyun.

“Tidak, aku terakhir melihatnya kemarin so—”

“Dia hilang. Ponselnya tidak bisa dihubungi.”

Jonghyun mati rasa. “Tunggu sebentar. Aku akan berganti baju.”

~~~

Taemin sudah duduk menonton televisi saat Minho bangun. Ia menyunggingkan senyum kecil sebagai sapaan selamat pagi, kemudian kembali meluruskan tatapan. Tidak ada kata-kata.

Minho mengeluarkan botol air mineral, lalu meneguk isinya sampai tandas. Hening masih menyergap mereka. Sejak percakapan kemarin, agaknya Taemin lebih menutup diri. Lantaran Minho tidak dapat menemukan bagian mana dari ucapannya yang mungkin menyakitkan, ia memutuskan diam.

Botol dalam genggaman Minho renyuk. Tetapi kenapa ia merasa gelisah dengan keadaan ini? Ia bukannya penyebab dari kecanggungan yang melayapi mereka.

“Taemin,” sembari berkata, ia mengarahkan tatapan pada pemuda itu, “kau ingin makan apa untuk sarapan?”

Taemin menoleh, tampak terkejut. “Terserah aku? Boleh apa saja?”

Bahu Minho mengendik. “Ya dan tidak. Terserah kau, tapi tidak apa saja.”

“Aku suka sarapan roti seperti biasa,” renung Taemin, lalu berpikir-pikir. Diam-diam Minho mengembuskan napas lega. Setidaknya Taemin sudah terlihat seperti biasa.

“Bagaimana kalau nasi?” cetus Taemin kemudian. Minho mengerutkan kening.

“Bukankah setiap hari kau sudah makan nasi?”

“Bukan yang instan. Seperti yang sudah Ibu buatkan saat aku sakit,” Taemin menjelaskan sambil menghampiri Minho di dapur. Matanya berbinar penuh harap. “Ya? Bagaimana kalau begitu?”

Minho memutar bola mata. “Aku tidak akan keberatan seandainya bisa memasak. Kau tahu sendiri—”

“Makanya kita lakukan bersama,” potong Taemin, lantas tersenyum lebar. “Aku juga tidak bisa, tapi kalau bersama-sama, aku yakin rasanya tidak terlalu buruk.”

“Atau dua kali lebih buruk.” Minho membuang botol airnya. “Cuci tanganmu sebelum menyentuh apapun.”

Taemin terkekeh. “Siap, Kapten!”

~~~

Ruangan tempat Aerin membuka mata cukup gelap dan berbau masam, kombinasi antara baju basah, rokok, dan kertas lama. Justru aneh jika gadis itu merasa tenang, apalagi santai, karena hal terakhir yang ia ingat adalah halaman belakang kafe pada pukul sebelas malam. Hal lain yang diingatnya, tentu saja, tatapan tajam lelaki itu.

Tanpa diperintah, sekujur tubuhnya menggigil. Dua mata itu menatapnya teramat dingin, tanpa belas kasih. Begitu tajam dan kritis sehingga ia merasa kulitnya dapat ditembus hanya dengan lirikan.

Kemudian Aerin berusaha bangkit dari dipan keras tempatnya berbaring. Tulang-belulangnya nyeri, ototnya kram, kepalanya pening. Bagaimana ia bisa berada di sini, sekarang pukul berapa, serta di mana ia berada—tidak satupun jawaban dari ribuan pertanyaan tersebut dapat ia perkirakan.

“Sudah bangun?”

Aerin terkesiap, tangannya hampir tergelincir dari pinggiran dipan. Suara itu, tidak mungkin salah, pasti milik Onew. Ia tidak tahu sejak kapan lelaki itu duduk secara terbalik di kursi kayu, menyandarkan dagu pada tepi atas sandaran kursi. Seulas senyum datar terbentang di bibirnya.

“Kau pasti lelah—tidurmu panjang sekali,” kekeh Onew, matanya menjadi sepasang bulan sabit. Manis, seandainya Aerin tidak berada dalam kondisi ini.

“Apa yang kau lakukan?” desis Aerin, berusaha menjadikan suaranya serendah mungkin agar kepanikan tidak kentara.

Alih-alih menjawab, Onew berkata, “Aku tidak menyangka bakal pulang membawa gadis. Saat mengetahuinya, Ayah juga kaget.”

“Apa maksudmu? Di mana aku?”

“Tapi toh dia senang. Tidak ada masalah.”

“Onew ssi!”

Kini Onew terdiam, entah karena Aerin menjerit atau lantaran sebutan honorifik yang disisipkan Aerin di belakang namanya—yang mana saja, Aerin tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meriuhkan keheningan ruangan dengan hujan pertanyaan.

“Siapa kau? Apa maumu? Di mana ini? Bagaimana aku bisa di sini? Kenapa aku ada di sini?” Suara Aerin semakin melengking saat bertanya, “Apa hubunganmu dengan Jonghyun?”

Onew menyimak dengan tenang, setengah tampak prihatin. Rentetan pertanyaan itu hanya dijawabnya menggunakan kalimat, “Kau tidak perlu memusingkannya.”

“Aku mau pulang!” Aerin membentak. Sebagai penegas, ia turun dari tempat tidur. Hanya sedetik ia menjejak lantai, tubuhnya ambruk. Kakinya terasa selemas agar-agar dan baru disadarinya bintik-bintik hitam memenuhi pandangan.

Onew berdecak tanpa nada mengejek. Ia menghampiri Aerin, berjongkok di depan gadis itu, lantas merenggut dagunya. Mata Aerin dipaksa bertumbuk pandang dengan milik lelaki itu.

“Kau sudah masuk dalam panggung sandiwara ini,” bisik Onew rendah. “Peranmu sangat mudah: duduk dan menanti pangeranmu datang.”

Aerin meneguk ludah sekalian dengan air matanya. Bertanya-tanya dalam hati mungkinkah Jonghyun yang mendapat peran pangeran dalam sandiwara gubahan Onew.

~~~

“Aduh!”

Minho mendongak mendengar pekik lirih Taemin. Rupanya ujung telunjuk pemuda itu teriris dan mulai meneteskan darah.

“Apa kubilang, aku saja yang memotong sayur,” omel Minho sambil mendorong pelan Taemin ke samping dan mengeluarkan kotak obat dari laci konter. Entah keberuntungan atau ironi sedari tadi pemuda itu menyandar di konter tersebut.

Taemin memberengut. “Hyeong tidak pernah melihat Master Chef, sih.”

“Hm? Kenapa memangnya?” gumam Minho dan menyorongkan kotak obat pada Taemin, menyuruhnya mengatasi luka sendiri.

“Mereka memotong dengan cepat dan tangkas. Sangat profesional.”

“Ya, tapi kau bukan mereka—berikan tanganmu.”

Taemin menurut, memperhatikan Minho yang cekatan membersihkan serta menangani lukanya. Mendadak ia tersenyum kecil. Jarak dengan Minho dapat diukur pakai penggaris. Di bahu Minho yang membungkuk di depan tangannya, ia menyurukkan kepala. Minho menegang.

“Apa yang kau lakukan?” cetus Minho. Lantaran terhalang kepala Taemin, ia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya, meski yang harus ia lakukan hanyalah merekatkan setengah sisa plester. Lagipula, ya ampun, mereka bukan pemeran drama serial untuk berpelukan seperti ini.

“Hm…,” jawab Taemin tanpa memberi jawaban. Bergeming.

Minho mendengus. Kemudian, tiba-tiba saja, tatapannya mendarat pada tengkuk Taemin. Kombinasi angka dan huruf yang dicetak di sana tampak sejelas siang hari, melempar Minho pada jurang kenyataan yang selalu dihindarinya: Taemin juga memiliki masa lalu dan masa depan seperti dirinya. Kemungkinannya hanya satu banding sejuta bagi Minho untuk tercantum dalam masa depan pemuda itu.

“Hei,” Minho tidak hanya memanggil Taemin, tetapi juga dirinya yang mulai dilanda kesuraman menyesakkan, “bisa-bisa kita tidak sarapan kalau kau begini terus.”

Berhasil. Taemin menegakkan punggung dan tersenyum kecil. “Benar. Hyeong juga lebih baik segera menutup lukaku.”

Hanya perlu satu gerakan ringan, kemudian Taemin kembali berkutata dengan aktivitasnya semula. Minho juga, meski dengan konsentrasi tersisa hanya seperempat.

“Kau punya tato,” akhirnya kata-kata itu terlontar, bahkan terdengar getir di telinga Minho sendiri. Taemin mengerjap pelan.

“Memang,” jawabnya ringan.

“Pilihan yang aneh,” komentar Minho sejurus. Mendengarnya, Taemin terkikik.

“Bisa jadi, soalnya aku tidak mengejar tren.”

“Lantas?”

Taemin mengerjap lagi, Minho mengenalinya sebagai respon ketidaknyamanan. Namun, akhirnya pemuda itu menjawab, “Agar tubuhku ada nilainya.”

Minho memutuskan tidak mengejar lagi. “Kau sudah memotong terlalu banya, sekarang masukkan ke dalam panci.”

“Begini rasanya memasak, huh?” gumam Taemin ketika menyendokkan nasi ke dalam mangkuk. “Menyenangkan. Pantas saja Ibu menyukainya.”

“Ibumu tidak pernah memasak?”

“Aku tidak punya ibu,” jawab Taemin kalem. “Aku selalu terima jadi. Ayah memperkerjakan seseorang untuk memasak sehari-hari. Aku tidak pernah ke dapur selama tinggal bersama mereka.”

“Pembantu?”

“Pekerjaannya tidak seluas itu.” Taemin mengatur meja makan dengan tatapan menerawang. “Lagipula, orang yang dipekerjakan Ayah tidak pernah bertahan lebih dari tiga bulan. Tidak ada yang tahan dengan keluarga kami. Ha, siapa pun tidak akan betah berada dalam satu ruangan bersama sekumpulan laki-laki dingin.”

Minho membisu. Daripada bercerita, Taemin lebih seperti menumpahkan keluh-kesah. Nadanya naik dan turun, mengikuti emosi yang hanya ditampakkan dari betapa kuat ia mencengkeram pinggiran mangkuk.

Alih-alih bertanya lagi, Minho memilih mematikan kompor dan meraih sendok. Entah dari mana datangnya ingatan untuk mengkopi seluruh kegiatan ibunya kemarin yang berhubungan dengan memasak—ya, ia hanya mengandalkan insting. Syukurlah rasanya tidak terlalu buruk.

Baru saja ia hendak mengangkat panci ke meja, ponselnya berdering. Minho menatap Taemin. “Kau bisa memindah ini ke meja?”

“Tentu saja,” jawab Taemin, lebih terdengar lega ketimbang riang.

Minho meraih ponsel di sofa. Melihat nama Jonghyun tertera di layar membuat keningnya mengernyit. Tidak biasanya—ralat, Jonghyun jarang sekali menghubunginya kecuali ada masalah teramat mendesak. Tetap saja ia menggeser ikon berwarna hijau ke samping dan menempelkan benda itu ke telinga.

“Ya?”

“Minho, kau tahu di mana Aerin?”

Penghilangan embel-embel setelah nama Minho hanya berarti Jonghyun telah menanggalkan urusan pekerjaan di belakang mereka. Ia kembali menjadi Kim Jonghyun, kakak kelas Minho dulu.

“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Minho ragu. Pertanyaan ini terlalu mengejutkannya.

“Kalau begitu….” Jeda yang cukup panjang. Minho masih dapat mendengar napas Jonghyun di seberang sana, tapi justru itu yang membuatnya makin merasa tidak beres. Pasti ada sesuatu.

“Ada apa, Hyeong?” tanya Minho tidak sabar.

“Kalau begitu… mungkinkah….” Jonghyun berhenti lagi, lalu merendahkan suaranya menjadi berbisik, “kau kenal seseorang bernama Taemin?”

“Ap—”

“Tidak, bukan mendiang Taemin yang itu, tetapi…,” jeda, “kau tidak mengenalnya, kan? Kau tidak kenal siapapun dengan nama yang sama, kan?”

Minho digerayangi perasaan takut bercampur penasaran yang tidak biasa. Namun, ia masih cukup bisa bersikap rasional untuk tidak menyemburkan semua fakta yang tersimpan rapat di dalam apartemennya. Menarik napas panjang, ia menjawab dengan pertanyaan, “Kau bertingkah aneh, Hyeong, sungguh. Ada apa sebenarnya?”

Ada gemerisik keras. Lalu, suara seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya menyahut, “Serahkan Taemin kalau tidak ingin segalanya bertambah buruk.”

Bibir Minho terasa amat kering, tapi bukan itu yang membuatnya tidak merespon.

Masih suara yang sama, berkata, “Kumohon.”

~~~

Butuh beberapa detik tambahan bagi Jonghyun untuk menemukan nama Minho dalam kontak ponsel. Selain karena pencahayaan kurang, fokusnya terhadap sekitar turun drastis; semua tampak mengganda di depan matanya.

Sembari menunggu hubungan disambungkan, ia melempar tatapan pada Key. Lelaki itu sedang mematikan satu per satu monitor yang memenuhi ruang tengah apartemen. Ekspresinya tidak kalah gugup dengan Jonghyun, meski Jonghyun yakin bukan kehilangan Aerin yang membuatnya tampak demikian.

Jonghyun telah diberitahu secara singkat namun runtut mengenai lelaki bernama Taemin ini, penyebab semua keanehan yang berada di sekitarnya akhir-akhir ini terjadi. Ia tidak dapat menangkap sebagian besar penjelasan Key, tapi ia tahu benar bahwa ini pulalah yang menjadi alasan mendasar bagi Key mencari tahu tentang Minho.

“Ya?” Ini dia, suara Minho. Tanpa basa-basi, Jonghyun mementingkan keperluannya terlebih dulu: mengetahui keberadaan Aerin. Namun, seperti dugaannya, lawan bicaranya tidak tahu-menahu mengenai gadis itu.

Key menatapnya tajam, memberi isyarat untuk bertanya soal Taemin. Beberapa menit lalu, ia juga mengungkapkan kepada Jonghyun bahwa ia telah melihat pemuda itu di apartemen Minho, tidak mungkin salah.

“Ada apa, Hyeong?” desak Minho.

“Kalau begitu, mungkinkah kau mengenal seseorang bernama Taemin—tidak, bukan mendiang Taemin yang itu, tetapi…,” Jonghyun memejamkan mata sejenak, lalu memburu, “kau tidak mengenalnya, kan? Kau tidak kenal siapapun dengan nama yang sama, kan?”

Key merampas ponselnya tidak sabar. Sikapnya yang cenderung defensif jelas membuat lelaki itu kesal.

“Serahkan Taemin kalau tidak ingin segalanya bertambah buruk,” perintah Key. “Kumohon.”

Minho menggumam, “Siapa ini?”

“Dia tidak aman bersamamu,” kata Key serius.

..::To be Continued::..

24 thoughts on “Minnie [Part 9]

  1. Yuukii November 24, 2013 / 09:06

    aaahhhhh zakyyyyyyyyy sebel sama tbc nya lagi tegang tegang aaaaaaaaaaaaaa
    haaah~ oke mulai ada pencerahan siapa itu onew,,tapi masih perlu penjelasan lagi kenapa dy nafsu banget dapetin taemin, part kemaren2 udah dibahas tentang taem yg kemungkinan punya sesuatu (apa’an tuh lupa lol) yg pasti gak main2 buat onew and the gank/? wkwkwk pokonya masih penasaran bangett ngett ngett..

    dan di akhir itu apa maksudnya si key kalo taemin gak aman sama minho?? maksuttnya key ada di pihak taem gitu?? oke ini belibet kompleks banget orz,,,jawabannya cuma ada d part yg akan datang wkwkwk gasabar nunggu kyeayy seruuuu…

    suka bangett 2min moment y itu apa’an sih masak bareng hahah, ikutan doong!! *diinjek2min* xD
    aerin aku ganyangka dy bakal diculik/? sama onew untuk entah apapun itu tujuannya *plaakk
    aku kirain,,c onew bakal nyuci otak/? c aerin untuk kemudian di adu domba/? ama c jong buat dapetin tujuannya*melenceng(imajinasiku emang pas2an wkkkkk) haahh pokonya seruuuuuuuu dan kenapa mesti tbc disaat2 menegangkan…zaky emang paling bisa mempermainkan emosi reader wkwwk*dicekekZaky*

    ditunggu next part nya, SEMANGAAAAAATTTT!!!!!. :-D

    • aminocte November 24, 2013 / 09:09

      Percaya atau nggak, aku juga ngira Onew memanfaatkan Aerin untuk diadu domba sama Jjong, lho, di part sebelumnya. *tos sama Yuukii*

      • Yuukii November 24, 2013 / 09:54

        ahahaha berarti kita sehati kak ami kkk~(sok kenal) dan just call me trya kaya zaky, biar lebih akrab/? juga hahahah bow

        • aminocte November 24, 2013 / 10:56

          Oke, salam kenal, trya ;) *diusir zaKy gara2 buka lapak di sini*

          • zaKy November 24, 2013 / 15:04

            alaah, gapapa ngobrol ajaa ^^ yang akrab yaa (?)

          • Yuukii November 24, 2013 / 15:15

            ahahaha iyaa salam kenal juga kak,, kkk~

            itu dia tuan rumahnya
            dateng wkwk *ngibrit*

    • zaKy November 24, 2013 / 15:03

      Iya, aku juga gatau kenapa Onew mesti culik Aerin ._. aku juga gatau kenapa Key bilang Taemin nggak aman bareng Minho ._.

      Aku kehabisan ide buat 2min moment di part ini. Setelah bertapa akhirnya pilih itu aja. Hahaha. Memang sinetron banget itu XD

      Iya, tunggu aja sebenernya apa yang direncanain Onew. Makasih ya, Tryaaa :**

      • Yuukii November 24, 2013 / 15:20

        hahahahaha gatau apa pura-pura gatau, takut diculik onew juga yah kalo bongkar rahasia mereka kkk~

        iya sama-sama zaaakk,, semangat!!!!!!!! :***

  2. aminocte November 24, 2013 / 09:06

    Dang! Apa-apaan ini? Kenaoa jadi menegangkan gini, sih? Aku merinding dari awal sampai akhir, kecuali part Taemin-Minho yang ‘itu’. Sama sekali nggak bisa ketawa.
    Alah, Taemin, sok-sokan jadi MasterChef. Menghidupkan rice cooker aja susahnya setengah mati (Hello Baby). Tuh, kan, luka. Tuh, kan, dikasih plester sama Minho. Hih!
    Onew yang, uh, ya, bisa dibilang jahat, nggak, sih? Menculik anak gadis orang? Trus, well, a lil bit JongKey moment, yah, aku senang Key pakai pendekatan yang lebih baik, yah, mungkin dia bukan orang yang baik, tetapi setidaknya cukup lunak. Nggak kebayang kalau Key nggak kooperatif sama sekali, Jjong bisa-bisa sekarat. *Key seperti ini aja Jjong udah setengah pingsan*
    Minho pasti kaget dengar permohonannya Key.
    Tapi emangnya Taemin mau dibarter sama Aerin? Hayo lhoo…aku jadi penasaran sama part 10.
    Semangat untuk lanjutannya, zaKy! :D *nangis gara-gara belum bikin cerita apapun minggu lalu*

    • zaKy November 24, 2013 / 15:06

      Onew kurang kerjaan sampe nyulik anak orang. Pft. Entah itu untuk dibarter atau apa, masih ga jelas juga. Dasar om-om /slapped

      Iyaa, makasih yaa, kak Ami ^^ semangat buat cerpen sama Tangled-nya ^^

  3. Yuukii November 24, 2013 / 09:09

    dan itu pas tangan taem keiris sinetron banget mwahahahahahah*digampar* /abaikan wkwkwk

  4. Eka Putri November 24, 2013 / 20:03

    hahhhhh.. TBC yang menyebalkan…
    sebenarnya siapa sih onew itu ??
    lanjutannya jangan lama2 yah… pleaseeee… :-)

    • zaKy November 24, 2013 / 20:08

      Onew itu… laki-laki. Haha, mungkin bakal dijelaskan di part selanjutnya ^^

      Iyaa, kalo bisa sih secepatnya. Tapi aku mau UAS sih, jadi gatau lagi kapan bisa dilanjutkan ._.

      Makasih yaa, Eka Putri :D

      • Eka Putri November 25, 2013 / 17:19

        ok sama sama :-)

  5. dhila_アダチ November 25, 2013 / 20:02

    baru kelar bacaa~~~ kemarin nekat baca di mobilsampe 7/8 part, alhasil sampe di kosan sempoyongan =___=”

    ciyusan aku juga ngira si Onew bakal ngadu-domba aerin sama jjong loh. alamaak..ternyata…
    Tujuan Onew nyulik Aerin buat apa? ni anak susah ditebak jalan pikirannya .=.

    Dan..dan..tatto si Taemin. Itu jawabannya bener apa enggak tuh? Alamaak, dari part 3 apa 4 gitu aku udah penasaran apa arti dari tu tatto =-= #uyeluyelTaemin

    Ihiw, si Key kok cara nindasnya baek banget sih *?*. Jadi dia pun gak sreg sama juragannya a.k.a Onew gitu ya? iih, ini banyak tanda tanya-nya niih…lanjut dulu deh pokoknya, Zak! :D

    • zaKy November 26, 2013 / 01:31

      Aku juga bingung ini sebenernya Onew sama Key mau ngapain .__. Mereka rebut2an anak orang tujuannya apa coba? Ahahaha

      Nanti lah, pasti tau tatonya buat apa, fufu.

      Makasih ya, Dhilaaa :D

  6. Tttut December 4, 2013 / 14:02

    Menegangkn
    ayo lnjut thor ,jgn lama2 y.,

    • zaKy December 5, 2013 / 05:34

      Haha, kalo bisa secepatnya sih, tapi karena aku lagi UAS, jadi mungkin agak lamaan dikit ._. Maaf ya ._.

      Makasih sudah mampiir :D

  7. Eka Putri December 14, 2013 / 06:26

    zaky mana nih part 10 nya ?? udah nunggu sampe jamuran nih.. hehehe :-p

    • zaKy December 14, 2013 / 20:17

      Eeh iyaa, maaf yaa. Diusahain secepatnya (tapi gatau kapan) n__n;

  8. stalker December 18, 2013 / 08:13

    bikin makin penasaran ajaaaaaa

    suka bgt sama ff bromance kaya gini hehehehe. alurnya gak klise. ditunggu chapter berikutnya unniya~~

    oh iya btw aku nungguin PoM juga loh T.T

    • zaKy December 19, 2013 / 18:51

      Iyaa, makasih sudah nunggu. Tapi, haha, aku gatau kapan bakal jadi. Diusahain secepatnya deh yaa n__n;

      makasiih sudah datang lagii :D

  9. aidazzling March 19, 2014 / 09:38

    Ahahahaha aku beneeeer~ Aerin pasti dalam keadaan bahaya, tapi Aerin diapain sih sampe jadi lemes gitu? Di suntik apaan gitu?
    Ah, Molla~ Yang penting aku mau baca lanjutanyaaa~

    • zaKy March 19, 2014 / 18:32

      aku juga ga mikir dia diapakan sampe bisa gitu, mungkin agak kurang penting buat dijelasin secara detail (?). Makasih sudah bertahan sampe part 9. Terharuu :’)

What's yours? ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s